Gayonews.co.id|Takengon – Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah menetapkan status darurat bencana hidrometeorologi setelah hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah sejak awal pekan.
Penetapan tersebut diputuskan dalam Rapat Penanganan Bencana Hidrometeorologi yang dipimpin langsung oleh Bupati Aceh Tengah di Oproom Lantai II Setdakab Aceh Tengah, Rabu (26/11/2025).
Dalam rapat tersebut, Bupati menekankan bahwa kondisi daerah saat ini tidak kondusif, sehingga diperlukan langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi untuk penyelamatan warga. Ia meminta seluruh perangkat daerah dan tim penanganan darurat untuk menyampaikan data secara detail dan membangun komunikasi intensif baik antarinstansi dalam daerah maupun dengan pemerintah provinsi dan nasional.
“Prioritas kita menyelamatkan warga dan memastikan distribusi bantuan tepat sasaran. Untuk itu, setiap proses harus dilakukan cepat, tepat, dan terkoordinasi,” tegas Bupati di depan peserta rapat.
Berdasarkan data sementara BPBD Aceh Tengah, sebanyak 9 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara proses evakuasi dan pencarian masih berlangsung di sejumlah titik terdampak.
Bencana juga menyebabkan 1.023 jiwa atau 426 kepala keluarga mengungsi dan tersebar di 28 titik pengungsian.
Seluruh jalur utama penghubung antar kabupaten lumpuh total akibat tertutup longsor. Beberapa ruas yang terdampak meliputi:
1. Bireuen – Takengon
-Merie I, Aceh Tengah
-Jamur Ujung, Bener Meriah
-Tenge Besi, Bener
-Krueng Simpur, Bireuen
2. Bener Meriah – Aceh Utara
-Gunung Salak
3. Takengon – Blang Kejeren (Gayo Lues)
-Isaq, Aceh Tengah
4. Takengon – Nagan Raya
-Paya Kolak, Aceh Tengah
-Beutong, Nagan Raya
-Genting Gerbang, Aceh Tengah
5. Takengon – Pidie Jaya
-Rusip Antara, Aceh Tengah
-Pameu, Aceh Tengah
Kondisi ini bukan hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga menghentikan distribusi logistik, bahan pangan, dan komoditas pertanian.
Petani cabai di Aceh Tengah turut terdampak karena distribusi hasil panen sekitar 500 ton/hari tidak dapat keluar daerah.
Dalam rapat tersebut, BPBD Aceh Tengah menegaskan perlunya dukungan alat berat dan logistik kemanusiaan untuk mempercepat penanganan darurat. Adapun kebutuhan mendesak antara lain:
-Wheeled Loader sebanyak 3 unit
-Excavator sebanyak 3 unit
– Sembako dan kebutuhan dasar bagi pengungsi
Selain itu, Bupati Aceh Tengah telah menghubungi sejumlah pihak untuk dukungan penanganan bencana, antara lain, Deputi Kedaruratan BNPB, Budi Wiranto, Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, Plt. Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidar
Dalam rangka memastikan koordinasi terpadu, Posko Utama Penanganan Darurat Bencana ditempatkan di Kantor Bupati Aceh Tengah.
Seluruh proses informasi, pendistribusian logistik, bantuan relawan, dan kebutuhan penanganan lapangan terpusat melalui posko ini.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengajak seluruh pihak – pemerintah pusat, pemerintah provinsi, TNI–Polri, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan masyarakat luas — untuk bersama memperkuat upaya penyelamatan dan pemulihan.
Pemerintah memastikan pembaruan informasi akan disampaikan secara berkala melalui kanal resmi setelah jaringan komunikasi pulih.(AS)






















