Gayonews.co.id|Aceh Tengah – Askab PSSI Aceh Tengah menghadiri Grand Opening lapangan Alpha Mini Soccer di Kecamatan Kebayakan, kawasan Kala Lengkio, Sabtu (28 Maret 2026).
Peresmian ini tidak sekadar seremoni olahraga, tetapi menjadi titik awal dari arah baru pembangunan sepak bola yang lebih terstruktur, progresif, dan berorientasi pada kemandirian daerah.
Ketua Umum Askab PSSI Aceh Tengah, Edwin Saputra, dalam pidatonya menegaskan bahwa sepak bola tidak boleh lagi dipandang sebagai aktivitas rekreatif semata, melainkan sebagai instrumen strategis dalam pembangunan sumber daya manusia dan identitas daerah.
“Kita harus mulai berbicara tentang kedaulatan sepak bola daerah. Artinya, Aceh Tengah harus mampu menciptakan, membina, dan mengorbitkan talenta sendiri tanpa bergantung pada daerah lain.
Dan itu hanya bisa dimulai dari keberanian membangun infrastruktur seperti ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam kerangka besar pembangunan olahraga, keberadaan fasilitas seperti Alpha Mini Soccer harus diikuti dengan desain pembinaan yang jelas, mulai dari grassroots, akademi usia dini, hingga sistem kompetisi yang berjenjang dan berkelanjutan.
“Sepak bola modern dibangun di atas sistem, bukan kebetulan. Jika kita ingin melahirkan pemain berkualitas, maka kita harus membangun ekosistem: lapangan yang layak, pelatih yang kompeten, kompetisi yang rutin, serta manajemen organisasi yang profesional,” ujarnya.
Lebih jauh, Edwin Saputra secara implisit menyentil pentingnya keberpihakan kebijakan pemerintah daerah terhadap olahraga.
Ia menilai bahwa selama ini masih terdapat ketimpangan antara tuntutan prestasi dengan dukungan anggaran yang tersedia.
“Tidak mungkin kita menuntut prestasi tanpa investasi. Daerah harus berani menjadikan olahraga sebagai prioritas pembangunan.
Karena di dalam sepak bola, kita tidak hanya membentuk atlet, tetapi juga membangun karakter, kepemimpinan, dan daya saing generasi muda,” katanya dengan nada tegas.
Dalam perspektif sosial, ia juga menekankan bahwa sepak bola memiliki fungsi strategis sebagai benteng terhadap degradasi moral generasi muda, termasuk ancaman narkotika yang semakin kompleks.
“Ketika ruang-ruang positif seperti ini hadir, maka kita sedang mempersempit ruang bagi hal-hal negatif. Sepak bola adalah energi, dan energi itu harus diarahkan. Jika tidak, ia akan mencari jalannya sendiri,” ungkapnya.
Momentum ini juga menjadi sinyal kuat bahwa keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan olahraga harus terus diperluas.
Dalam hal ini, Edwin memberikan apresiasi kepada pemilik Alpha Mini Soccer, Ibrahim, yang dinilai telah mengambil peran nyata dalam membangun fondasi sepak bola daerah.
“Ini bukan sekadar investasi bisnis, tetapi investasi sosial dan masa depan. Ketika swasta mulai bergerak, maka pemerintah tidak boleh tinggal diam.
Kolaborasi adalah kunci jika kita ingin melihat Aceh Tengah berdiri sejajar dengan daerah lain dalam dunia sepak bola,” tutupnya.
Dengan diresmikannya Alpha Mini Soccer, Aceh Tengah kini memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem sepak bola yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan.
Sebuah langkah awal menuju lahirnya generasi emas yang tidak hanya bermain, tetapi juga mampu memenangkan pertandingan dan membawa nama daerah ke panggung yang lebih tinggi.(*)






















